Detik, Kompas, Tempo, CNN Indonesia — Tech Stack Mereka Ternyata Sangat Berbeda
Media online Indonesia terbesar menggunakan teknologi yang sangat berbeda satu sama lain. Tempo sudah modern dengan Vue + Nuxt. Detik pakai Swiper dan CoreJS saja. Kompas masih jQuery. Saya cek semuanya dengan Wappalyzer.
Media online Indonesia adalah salah satu kategori website yang paling sering dibuka orang Indonesia setiap hari. Detik, Kompas, Tribun, CNN Indonesia — puluhan juta pageview setiap hari.
Tapi ada perbedaan yang mencolok: ada media yang terasa ringan dan cepat, ada yang terasa berat dan penuh lag, terutama saat iklan bermunculan.
Apakah perbedaan itu berkaitan dengan teknologi yang mereka pilih? Saya cek dengan Wappalyzer dan jawabannya cukup jelas.
Tempo.co — Vue.js + Nuxt.js
Tempo adalah media berita tertua Indonesia yang sudah bertransformasi digital dengan serius. Dan pilihan teknologi mereka mencerminkan itu: Vue.js dengan Nuxt.js.
Ini bukan pilihan kecil. Vue dan Nuxt adalah framework JavaScript modern yang setara dengan React dan Next.js — sama-sama digunakan oleh perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka di seluruh dunia.
Nuxt.js memberikan Tempo beberapa keunggulan konkret:
- Server-side rendering — artikel dirender di server, bukan di browser. Pembaca mendapat halaman yang sudah jadi, bukan HTML kosong yang menunggu JavaScript selesai berjalan
- Performa loading yang lebih baik — terutama pada koneksi mobile yang tidak stabil
- SEO yang solid — mesin pencari bisa mengindex konten artikel dengan sempurna
Tempo adalah contoh media Indonesia yang sudah melakukan migrasi teknologi dengan benar.
Kumparan — React
Kumparan lahir sebagai media digital-first yang dibangun oleh tim jurnalis berpengalaman dari berbagai media besar Indonesia. Mereka tidak punya warisan teknologi lama untuk dikelola — dan pilihan mereka mencerminkan itu: React.
React memungkinkan Kumparan membangun pengalaman membaca yang lebih interaktif — konten yang bisa diupdate real-time, interface yang responsif, dan arsitektur yang bisa berkembang bersama kebutuhan platform.
Berbeda dengan Detik atau Kompas yang harus me-modernisasi codebase lama yang sangat besar, Kumparan bisa membangun dari nol dengan pilihan terbaik yang tersedia.
Detik.com — Swiper.js + Core-JS + Tailwind CSS
Ini yang menarik dan cukup mengejutkan.
Detik.com adalah salah satu website dengan traffic tertinggi di Indonesia — konsisten masuk top 5 website paling banyak dikunjungi. Tapi Wappalyzer mendeteksi:
- Swiper.js — library untuk slider/carousel
- Core.js — polyfill JavaScript untuk kompatibilitas browser lama
- Tailwind CSS — utility-first CSS framework
Yang tidak terdeteksi: tidak ada JavaScript framework modern seperti React atau Vue.
Detik sepertinya dalam proses migrasi sebagian. Tailwind CSS adalah alat yang modern — tapi tidak adanya React atau Vue menunjukkan arsitektur JavaScript-nya belum sepenuhnya modern.
Core.js sebagai polyfill juga menunjukkan mereka masih harus mendukung browser lama — kemungkinan karena pangsa pengguna Detik yang sangat luas, termasuk pengguna dari perangkat yang lebih tua.
Ini menjelaskan kenapa Detik.com bisa terasa berat — bukan soal konten atau iklannya saja, tapi arsitektur dasarnya belum seoptimal media yang sudah mengadopsi framework modern.
Kompas.com — jQuery, Modernizr, Swiper, Lozad.js
Kompas adalah media paling "klasik" dari sisi teknologi di antara yang saya cek. Wappalyzer mendeteksi:
- jQuery — library JavaScript era 2010-an
- Modernizr — tool untuk memeriksa kompatibilitas fitur browser
- Swiper.js — library slider
- Lozad.js — lazy loading library
- Core.js — polyfill
JQuery adalah sinyal paling jelas bahwa sebuah website belum diperbarui ke arsitektur modern. jQuery dulu revolusioner — ia membuat JavaScript lintas browser bisa diprediksi di era IE6. Tapi paradigma development JavaScript sudah bergerak jauh ke depan sejak 2013.
Kompas seperti menanggung beban warisan teknologi yang sangat panjang. Untuk media sebesar Kompas, migrasi total ke React atau Vue bukan pekerjaan kecil — itu bisa memakan waktu bertahun-tahun dan ratusan ribu dollar.
Tapi Lozad.js yang terdeteksi adalah sinyal positif: Kompas setidaknya sudah mengimplementasikan lazy loading, artinya gambar dan konten di bawah viewport tidak diload sampai pengguna scroll ke sana. Sedikit tapi berarti.
CNN Indonesia — Core.js + Web Vitals + PubSubJS
CNN Indonesia memiliki profil yang mirip dengan Kompas dari sisi teknologi:
- Core.js — polyfill
- Web Vitals — library Google untuk mengukur performa
- PubSubJS — event messaging system
Tidak ada JavaScript framework modern terdeteksi.
Menariknya, mereka sudah mengimplementasikan Web Vitals — artinya tim teknis CNN Indonesia aktif memantau skor performa (LCP, FID, CLS). Kesadaran itu bagus, tapi memantau performa tidak sama dengan membangun dengan arsitektur yang performant.
CNN International — Stack yang Jauh Lebih Kompleks
Menarik untuk membandingkan CNN Indonesia dengan CNN International (versi globalnya). CNN International mendeteksi:
- Styled Components — CSS-in-JS untuk React
- Kaltura — platform video enterprise
- jQuery + Web Vitals + PubSubJS + Core.js
- Google Tag Manager, Stripe, AppNexus, Prebid — infrastruktur monetisasi yang sangat sophisticated
CNN International terlihat sedang dalam proses migrasi — ada Styled Components yang merupakan library React/CSS modern, tapi jQuery masih terdeteksi juga.
Ini adalah realita banyak media besar global: sistem lama dan sistem baru berjalan berdampingan selama proses migrasi yang sangat panjang.
Perbandingan Lengkap
| Media | Tech Stack | Penilaian |
|---|---|---|
| Tempo.co | Vue.js + Nuxt.js | Modern |
| Kumparan | React | Modern |
| Detik.com | Swiper + Core.js + Tailwind | Transisi |
| CNN Indonesia | Core.js + Web Vitals + PubSubJS | Lama |
| Kompas.com | jQuery + Modernizr + Swiper | Lama |
| CNN International | Styled Components + jQuery | Transisi |
Mengapa Ini Penting?
Anda mungkin bertanya: media besar ini tetap punya jutaan pembaca meski teknologinya lama. Kenapa perlu diperbarui?
Beberapa alasan konkret:
1. Core Web Vitals memengaruhi ranking Google. Sejak 2021, Google secara eksplisit menggunakan metrik performa (LCP, CLS, INP) sebagai faktor ranking. Website yang lambat bisa kehilangan posisi di hasil pencarian.
2. Pengalaman mobile yang lebih buruk. Mayoritas pembaca media online Indonesia mengakses via smartphone, sering dengan koneksi 4G yang bervariasi. Arsitektur lama dengan jQuery jauh lebih berat dari framework modern yang dioptimasi untuk mobile.
3. Kecepatan pengembangan fitur. Tim developer yang bekerja dengan React atau Vue bisa membangun fitur baru jauh lebih cepat dibanding tim yang masih bekerja dengan jQuery dan PHP monolitik.
4. Keamanan. Codebase yang lebih modern biasanya lebih mudah diaudit dan diperbarui saat ada celah keamanan.
Pelajaran untuk Bisnis Kamu
Media besar menanggung beban warisan teknologi yang mereka tidak pilih — mereka mewarisinya dari keputusan sepuluh atau lima belas tahun lalu.
Bisnis yang baru membangun website hari ini punya keuntungan besar: tidak ada warisan. Kamu bisa mulai dengan fondasi yang tepat dari awal.
Tempo dan Kumparan membuktikan bahwa media digital yang serius memilih framework modern. Sementara Kompas dan Detik masih menanggung beban migrasi yang sangat panjang dan mahal.
Di Koraa, setiap website yang kami bangun dimulai dengan React dan Next.js — bukan karena kami ikut trend, tapi karena fondasi ini adalah yang terbaik untuk website yang harus cepat, mudah ditemukan Google, dan bisa berkembang tanpa rebuild.
Tertarik membangun website dengan fondasi yang sama dengan Tempo dan Kumparan? [Konsultasi gratis dengan tim Koraa](/kontak).
