KoraaKoraa
Ilustrasi logo Tokopedia Traveloka Shopee Gojek dengan tech stack React dan Next.js
Tips & Edukasi8 menit baca5 Juli 2026

Tokopedia, Traveloka, Shopee, Gojek Pakai Teknologi Apa? Saya Cek Sendiri

Unicorn Indonesia yang valuasinya miliaran dollar — Tokopedia, Traveloka, Shopee, Gojek — ternyata semuanya membangun website dengan React. Dan ada satu yang mengejutkan: Grab masih pakai WordPress.

Indonesia punya beberapa startup yang sudah menjadi unicorn — valuasi di atas 1 miliar dollar, ratusan juta pengguna aktif, dan infrastruktur teknologi yang harus bekerja tanpa henti.

Saya penasaran: apa yang mereka pilih untuk membangun website dan aplikasi web mereka?

Dengan Wappalyzer — ekstensi Chrome gratis yang bisa mendeteksi teknologi di balik website manapun — saya cek satu per satu. Hasilnya sangat menarik, dan ada satu temuan yang cukup mengejutkan.

Tokopedia — React, Emotion, Loadable Components

Tokopedia, salah satu e-commerce terbesar Indonesia dengan puluhan juta pengguna aktif, membangun frontend-nya dengan React sebagai pondasi utama.

Tapi ada yang lebih menarik dari sekadar React. Wappalyzer juga mendeteksi:

Emotion — library CSS-in-JS yang memungkinkan styling ditulis dalam JavaScript. Ini pilihan yang disukai tim besar karena styling lebih terprogram, bisa kondisional, dan tidak ada konflik nama class.

Loadable Components — library untuk code splitting. Artinya Tokopedia tidak memuat semua kode sekaligus ketika kamu membuka halamannya — hanya kode yang dibutuhkan halaman itu yang diload. Ini salah satu teknik kunci mengapa Tokopedia bisa terasa cepat meski fiturnya sangat banyak.

Ini bukan setup sederhana — ini arsitektur yang dipikirkan matang untuk skala besar.

Traveloka — React + Next.js

Traveloka beroperasi di seluruh Asia Tenggara, menangani jutaan pencarian penerbangan, hotel, dan aktivitas setiap harinya. Pilihan teknologi mereka: React bersama Next.js.

Kombinasi ini bukan kebetulan. Next.js memberikan Traveloka:

  • Server-side rendering — halaman dirender di server sebelum dikirim ke browser, artinya loading terasa lebih cepat dan Google bisa mengindex konten dengan sempurna
  • Static generation — halaman yang tidak sering berubah bisa di-generate sekali dan disajikan dengan sangat cepat
  • Built-in optimasi — gambar, font, dan script dioptimasi secara otomatis

Untuk bisnis travel yang sangat bergantung pada SEO (orang mencari "tiket Jakarta Bali murah" di Google), pilihan Next.js sangat masuk akal.

Shopee — React, Redux, lit-html, lit-element

Shopee memiliki setup yang paling kompleks di antara semua yang saya cek. Terdeteksi: React, Redux, PubSubJS, lit-html, dan lit-element.

Redux adalah state management library — mengelola data yang sangat kompleks seperti status ratusan item di keranjang, promo flash sale yang berubah real-time, dan session jutaan pengguna bersamaan.

lit-html dan lit-element adalah library Google untuk membuat web components — komponen UI yang bisa dipakai di mana saja, bahkan di luar React. Ini menunjukkan Shopee mungkin punya arsitektur microfrontend — berbeda bagian dari aplikasi dikembangkan oleh tim yang berbeda dengan teknologi yang bisa berbeda, tapi semuanya tetap berjalan harmonis.

Ini level kompleksitas yang serius — dan ini yang membuat Shopee bisa terus menambah fitur tanpa seluruh sistem menjadi kacau.

Gojek — React + Next.js

Gojek — super app Indonesia yang menangani ojek, makanan, pembayaran, dan puluhan layanan lain — menggunakan React dengan Next.js untuk website mereka.

Menarik bahwa Gojek memilih stack yang sama dengan Traveloka. Untuk perusahaan yang harus menjaga konsistensi brand di puluhan produk dan layanan, Next.js memberikan struktur yang memudahkan tim besar bekerja tanpa menginjak kaki satu sama lain.

Kumparan — React

Kumparan, media digital Indonesia yang lahir dari tim mantan jurnalis Detik dan media besar lainnya, memilih React sebagai fondasi teknologinya.

Ini pilihan yang menunjukkan Kumparan membangun untuk jangka panjang — bukan sekadar pasang WordPress dan tambah plugin. React memungkinkan mereka membuat pengalaman membaca yang lebih interaktif dan cepat.

GoPay — Vue.js + Nuxt.js

GoPay, layanan fintech dari ekosistem Gojek, memilih jalur yang berbeda: Vue.js dengan Nuxt.js.

Vue dan Nuxt adalah alternatif yang solid untuk React dan Next.js — sama-sama modern, sama-sama performant. Nuxt memberikan server-side rendering yang penting untuk aplikasi fintech yang harus bisa diindex dan diakses cepat.

Pilihan Vue di GoPay mungkin juga dipengaruhi oleh preferensi tim engineering mereka — ada komunitas developer Vue yang cukup besar di Indonesia.

OVO — Tanpa Framework Modern

Ini yang cukup mengejutkan untuk sebuah platform fintech besar. OVO mendeteksi: Twitter Ads, CoreJS, SwiperJS, Modernizr — tapi tidak ada JavaScript framework modern seperti React atau Vue.

Modernizr adalah library yang memeriksa fitur browser yang tersedia — biasanya dipakai di website yang masih harus mendukung browser lama. SwiperJS adalah library untuk slider/carousel.

Ini menunjukkan website OVO kemungkinan dibangun dengan pendekatan yang lebih konvensional — bukan arsitektur SPA (Single Page Application) modern. Untuk platform fintech yang berhadapan dengan pengguna mobile-first Indonesia, ini menarik untuk diperhatikan.

Dan Yang Paling Mengejutkan: Grab Pakai WordPress

Ini temuan yang paling tidak saya duga.

Grab — super app ride-hailing terbesar di Asia Tenggara, pesaing langsung Gojek, valuasi puluhan miliar dollar — website grab.com/sg menggunakan WordPress.

Bukan WordPress yang dikustomisasi habis-habisan. WordPress yang cukup standar, terdeteksi jelas oleh Wappalyzer.

Ini bukan berarti Grab buruk secara teknis — aplikasi mobile Grab tentu menggunakan stack yang jauh lebih canggih. Tapi untuk website marketing mereka yang menghadap publik, Grab memilih solusi yang pragmatis dan cepat untuk dikelola oleh tim non-teknis.

Bukti bahwa tidak semua bagian dari bisnis besar harus dibangun dengan teknologi paling canggih — yang penting sesuai kebutuhan.

Pola yang Terlihat

| Perusahaan | Tech Stack | Catatan |

|---|---|---|

| Tokopedia | React + Emotion + Loadable | Dioptimasi untuk skala |

| Traveloka | React + Next.js | SEO & performa |

| Shopee | React + Redux + lit | Arsitektur kompleks |

| Gojek | React + Next.js | Super app |

| Kumparan | React | Media modern |

| GoPay | Vue.js + Nuxt.js | Fintech |

| OVO | CoreJS, SwiperJS | Tanpa framework modern |

| Grab | WordPress | Website marketing saja |

Satu pola sangat jelas: semua unicorn Indonesia yang websitenya terasa cepat dan modern pakai React. Sebagian besar sudah mengadopsi Next.js untuk optimasi lebih lanjut.

Apa Relevansinya untuk Bisnis Kamu?

Kamu tidak perlu arsitektur Shopee yang kompleks untuk bisnis yang baru berkembang. Tapi pilihan teknologi yang dibuat unicorn-unicorn ini memberikan satu sinyal yang jelas:

React dan Next.js adalah standar industri untuk web yang serius.

Bukan karena trendy. Tapi karena ini kombinasi yang terbukti bisa di-scale dari startup kecil sampai unicorn dengan jutaan pengguna — tanpa harus membangun ulang dari nol.

Di Koraa, kami membangun website dengan stack yang sama: React + Next.js. Bukan karena ikut-ikutan Traveloka atau Gojek. Tapi karena setelah membangun website untuk berbagai bisnis Indonesia, kami percaya ini adalah fondasi terbaik untuk website yang:

  • Cepat dari hari pertama
  • Mudah ditemukan di Google
  • Bisa berkembang tanpa rebuild
  • Sepenuhnya milik kamu

Mau website bisnis kamu dibangun dengan fondasi yang sama dengan Traveloka dan Gojek? [Konsultasi gratis dengan tim Koraa](/kontak) — tidak ada komitmen, tidak ada hard sell.

Koraa

Butuh website profesional untuk bisnis kamu?

Konsultasi gratis, tanpa kewajiban. Ceritakan kebutuhanmu dan kami bantu carikan solusi terbaik.